Hidup Segan Mati Tak Mau Ala PSBS Biak

Persoalan finansial menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi PSBS Biak. Berdasarkan catatan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) sebagaimana disebutkan dalam bahan ulasan ini, total tunggakan gaji yang harus dilunasi PSBS mencapai Rp2,2 miliar.

Redaksi BolaTeroos
21 September 2026
3 min30 Views
Hidup Segan Mati Tak Mau Ala PSBS Biak

BOLATEROOS – Gejolak tengah melanda PSBS Biak, klub asal Papua yang sempat mencuri perhatian setelah promosi ke Liga 1 pada musim kompetisi 2025. Saat itu, Badai Pasifik mampu mengakhiri musim di peringkat 9 klasemen. Namun, musim berikutnya menjadi antiklimaks setelah PSBS harus terdegradasi dengan hanya meraih empat kemenangan sepanjang kompetisi. Kini, persoalan kembali menghantui PSBS saat mengarungi Liga 2 musim ini.

Kemunduran PSBS Biak mulai terasa setelah kepergian investor utama, Owen Rahadian, pada awal musim. Owen yang kini berada di barisan Persipura disebut memilih mundur akibat adanya perbedaan sudut pandang mengenai kemajuan klub serta dugaan intervensi dari pemegang saham minoritas. Pasca-kepergiannya, gonjang-ganjing internal klub semakin terasa, mulai dari ketidakjelasan target hingga persoalan finansial yang berujung pada penunggakan gaji pemain dan staf.

Persoalan finansial menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi PSBS Biak. Berdasarkan catatan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) sebagaimana disebutkan dalam bahan ulasan ini, total tunggakan gaji yang harus dilunasi PSBS mencapai Rp2,2 miliar. Angka tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi klub. Kondisi ini juga memunculkan pertanyaan di kalangan pecinta sepak bola Indonesia mengenai pengawasan dan penanganan persoalan finansial klub oleh PSSI maupun operator kompetisi.

Di tengah permasalahan tersebut, PSBS Biak juga menghadapi kendala dalam pendaftaran pemain baru. Adanya registration ban dari FIFA membuat klub tidak leluasa mendatangkan pemain untuk memperkuat skuad. Akibatnya, PSBS disebut mengandalkan pemain-pemain akademi EPA PSBS untuk mengarungi kompetisi Liga 2 musim ini. Situasi ini tentu menjadi tantangan besar bagi klub yang sebelumnya sempat merasakan persaingan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Ironi lainnya terlihat dari aktivitas klub di media sosial yang dinilai tidak semeriah klub-klub lain dalam mengikuti kompetisi. Unggahan mengenai latihan maupun hasil pertandingan disebut jarang terlihat. Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa keikutsertaan PSBS Biak musim ini sekadar memenuhi kewajiban kompetisi, terlebih dengan adanya ancaman denda apabila klub memilih absen. Meski demikian, perlu ada kejelasan mengenai kondisi internal klub dan langkah nyata yang disiapkan manajemen untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

PSBS Biak kini berada dalam situasi yang memprihatinkan. Klub yang pernah menjadi kebanggaan Papua dan mencatatkan kiprah di Liga 1 harus menghadapi persoalan finansial, keterbatasan pemain, hingga ketidakjelasan arah klub. Apakah Badai Pasifik mampu bangkit dan kembali menjadi kekuatan sepak bola Papua, atau justru semakin terpuruk? Perjalanan PSBS di Liga 2 musim ini layak menjadi perhatian, sekaligus pengingat bahwa keberlangsungan klub tidak hanya ditentukan oleh prestasi di lapangan, tetapi juga oleh tata kelola dan fondasi finansial yang sehat.

Punya Prediksi & Taktik Jitu?

Susun pemain favoritmu di Fantasy Liga Indonesia sekarang juga!

Main Fantasy